August 14, 2012

Benda-Benda Abstrak

Diambil dari epilog novel Believe, yang ditulis oleh Morra Quatro.

"Medina, Bunda ada cerita."
Dina tidak menutup buku. Menggenggam pensil, enggan beralih dari soal pertidaksamaan di halaman dua puluh. "Cerita apa, Bunda?"
Lampu berganti hijau. Bunda mengantre dengan sabar. Pelan-pelan, beliau menjalankan mobil,
memutar setirnya ke kanan, melewati warung penjual sate pertigaan. Dina menatap sate-sate di atas panggangan sejenakDina selalu suka melihat sate-sate itu berjajar disanalalu kembali kepada Bunda.
Lalu, Bunda mulai bercerita. Bunda tidak terlalu pandai bercerita. Harus mengulang bagian yang sama berkali-kali. Jadi, biar Dina saja yang menceritakan ulang ceritanya, ya.
Ini ceritanya.
Kata Bunda, pada zaman dahulu, di sebuah pulau kecil, hiduplah benda-benda abstrak. Seperti Kekayaan, Kegembiraan, Kesedihan, Kecantikan, dan Cinta. Suatu hari, banjir melanda pulau kecil ini hingga nyaris tenggelam.
Di bagian itu, Dina menginterupsi Bunda, "Banjir? Di pulau kecil? Maksudnya tsunami, Bunda?"
"Bukan, banjir." Dia berkeras. Dina tidak mengerti, tetapi tidak pernah mencoba membantah.
Nah, kata Bunda, saat itu, seluruh penduduk pulau berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Tapi, Cinta kebingungan. Karena ia tidak memiliki perahu, dan ia tidak bisa berenang.
Cinta berdiri di tepi pantai, mencoba mencari pertolongan. Air semakin naik membasahi kakinya.
Tak lama kemudian, ia melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.
"Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta.
Dina tahu ini terdengar lucu, tapi memang seperti itulah ceritanya.
"Aduh! Maaf, Cinta!" jawab Kekayaan. "Perahuku terlalu penuh dengan harta bendaku. Aku tidak bisa membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagi pula, tidak ada tempat lagi bagimu di perahu ini. Coba minta tolong Kegembiraan!"
Cinta sedih sekali. Namun, kemudian, lewatlah Kegembiraan dengan perahunya.
Cinta memanggil, "Kegembiraan, tolong aku, aku hampir tenggelam!"
Kegembiraan tidak mendengar Cinta. Karena ia terlalu gembira. Ia mengayuh perahunya cepat dan berlalu. Cinta terdiam sedih menatapnya.
Berikutnya, lewatlah Kecantikan. Cinta berteriak lagi, "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!"
Kecantikan menjawab, "Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tidak bisa membawa kamu. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut Kecantikan.
Cinta sedih, dan ia mulai menangis. Saat itu, lewatlah Kesedihan. Cinta memanggil lagi, "Kesedihan, tolong aku, boleh aku naik ke perahumu?"
Kesedihan mendengarnya. Ia menjawab, "Maaf, Cinta. Aku sedang sedih, dan aku ingin sendiri saja." Kemudian, ia mengayuh perahunya pergi.
Cinta mulai putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya.
Pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!"
Cinta menoleh ke arah suara itu. Ia melihat seorang tua dengan perahunnya. Cepat-cepat Cinta naik, tepat sebelum air menenggelamkannya. Lalu, di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.
Pada saat itu, Cinta sadar, ia sama sekali tidak tahu siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta kemudian bertemu dengan penduduk pulau, dan bertanya kepadanya.
Orang itu berkata, "Orang tua tadi, yang menyelamatkan kamu.., dia adalah Waktu."
Cinta terdiam bingung. Lalu, tanyanya, "Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku bahkan tidak mengenalnya. Bahkan, teman-teman yang mengenalku pun tidak mau menolongku.."
Jawab orang itu, "Sebab, hanya Waktu sajalah yang tahu, berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu."
Saat certa itu selesai, kamu sedang melintasi Rumah Sakit St. Elizabeth. Mobil merayap turun, pelan-pelan. Bunda kembali diam.
Namun, Dina tidak ingin mencoba mengajaknya bicara searang. Karena, dulu pernah begini. Dulu, saat para laki-laki itu meninggalkan rumah untuk masuk pondok atau berangkat ke Mesir. Ini adalah kediaman yang seperti itu.
Kemudian, tanya Bunda, "Dina suka ceritanya?"
Dina tidak tahu.
"Cinta itu tidak mengenal Waktu, ya, Bunda?"
Terdengar hela napas beliau, "Tidak. Cinta tidak mengenal Waktu. Walaupun, hanya Waktu yang tahu seberapa berharganya Cinta itu." ---




N.

No comments:

Post a Comment