September 06, 2012

Berlari, Bebas dan Kembali

Aku terus berlari sekuat tenaga tanpa memperdulikan kondisi tubuhku. Aku tahu ini sudah jam 6 sore, tetapi aku masih ingin berlari. Aku terus menambahkan kecepatan berlariku. Aku berlari, dan terus berlari.
Kamu, yang sudah merusak hariku yang berat ini. Kenapa tidak pergi saja? Apa kamu lupa bahwa
aku pernah berkata bahwa lupakan saja semuanya? Kamu cukup pintar untuk mengerti kalimat itu, kan? Kamu pura-pura bodoh, atau memang bodoh? Apalagi yang masih kamu inginkan dariku? Aku pun terus berlari.
Tanpa sadar, ada benda besar menabrakku. Aku jatuh, dan semuanya gelap.
Kemudian, aku sadar bahwa aku sudah berada di tempat yang berbeda. Aku tergeletak di sebuah ruangan, dan aku tidak ingat semuanya. Aku berusaha mengingat siapa yang ada di ruangan ini, tetapi aku tidak tahu. Kosong dan asing.
Lalu, ada seorang wanita yang bertanya kepadaku, "Kamu tidak apa-apa kan, Stella?" Stella? Siapa Stella itu? Dan siapa wanita ini? Pikirku. Aku hanya bisa menjawab, "Anda siapa? Dan siapa Stella itu?" Wanita itupun menangis sejadi-jadinya, aku hanya bisa terdiam dan berpikir. Tetapi, semakin keras aku berpikir, kepalaku semakin sakit.
Orang-orang dengan seragam khusus -yang katanya mereka adalah dokter dan suster- silih berganti memasuki ruangan ini dan mengecek kondisiku. Aku semakin bingung, dan tak mengerti apapun.
Dua hari kemudian, ada seorang laki-laki yang datang ke ruanganku. Dia membawakanku bunga satu buket bunga yang berisi bunga mawar merah muda pucat, dan entah mengapa, saat melihat bunga itu aku langsung jatuh hati. Laki-laki itu kemudian datang mendekatiku, memberikan senyum terbaiknya, dan menggenggam tanganku.
"Kamu siapa?" tanyaku dengan dingin sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya.
Seperti ingat akan sesuatu, ia melepaskan genggamannya dariku dan menjawab, "Aku Rio, temanmu di sekolah."

"Teman? Di sekolah? Memangnya aku sekolah dimana?" Aku menjadi semakin bingung kali ini.
"SMA 21, masa kamu lupa? Jangan bercanda dong, Bunny.. Eh, maksudku, Stella.."
"Kamu yang jangan bercanda, aku tidak tahu aku sekolah dimana, bahkan aku tidak tahu bahwa aku sekolah. Sebenarnya, ada apa sih dengan kalian semua? Stella itu siapa?" Aku bersikeras.
"Gini ya, manis. Aku jelasin, nama kamu Stella, sekolahmu di SMA 21 kelas 11. Rumahmu di jalan Mawar nomor 3. Mereka, yang selalu merawatmu, adalah orang tuamu, Om Fauzi dan Tante Diana." dengan sabar, laki-laki itu menjelaskan kepadaku. Perlahan, aku mengerti. Tetapi, anehnya, tetap saja aku tidak mengerti mengapa aku bisa lupa itu semua. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit lagi, yang ini lebih parah daripada yang sebelumnya, dan dunia menggelap kembali.
Aku terbangun, dan ternyata laki-laki bernama Rio itu tertidur di kursi, dan ia menggenggam tanganku. Aku lepaskan genggamannya secara perlahan agar ia tidak terbangun -karena ia terlihat sangat lelah- dan karena aku merasa bosan, aku memutuskan untuk jalan-jalan keluar dari ruangan ini.
Aku berjalan dan akhirnya duduk di taman kecil ini. Walaupun kecil dan sederhana, tetapi taman ini sangat indah, taman ini penuh dengan bunga berwarna-warni dan terdapat beberapa pohon yang rindang. Aku terkejut saat melihat Rio sudah berada disebelahku. Ia tersenyum dan mengacak rambutku.
"Ih, ngapain sih?" tanyaku ketus sambil membenarkan tatanan rambutku.
"Kamu lucu kalau lagi ngambek." katanya dengan santai.
Aku diam lagi, dan menikmati pemandangan yang ada bersama laki-laki aneh ini.
"Dulu, aku sering banget pergi ke taman gini sama temen dekatku, dia suka sekali dengan bunga, sama seperti kamu. Tetapi..." Rio memecah keheningan.
"Tetapi apa?" aku mulai penasaran.
"Dia mengalami kecelakaan, dan........"
"Dan?"
"Ha? Sudah lupakan. Jangan banyak mikir, Stel. Nanti pusing lagi." Ia membelai rambutku.
Tiba-tiba, terlintas rekaman kejadian perempuan yang mirip denganku sedang berlari dan ia pun tertabrak bus. Kepala ini terasa sakit lagi.
"Kamu kenapa, Stel? Balik ke kamar aja yuk. Rebahan dulu. Mungkin kamu kecapekan.." kata Rio. Akupun menurutinya.
Di dalam tidurku, aku bermimpi kejadian-kejadian diluar batasku. Disana ada aku dan seorang laki-laki tertawa, saling menggenggam tangan, di sebuah taman. Aku tidak tahu siapa lelaki itu, tapi tampaknya, ia mengenalku dan aku mengenalnya. Kita sangat dekat. Di tempat lain, aku menangis di sebuah ruangan yang seperti kamarku. Rasanya sakit sekali. Di lain waktu, aku melihat lelaki yang bersamaku tadi, bersama seorang perempuan lain. Mereka terlihat sangat dekat, dan tidak tahu kenapa, aku merasa ingin mati saja saat melihat itu.
Aku terbangun dan kepala ini terasa sakit lagi. Rio tidak ada lagi di kamar ini, hanya pasangan suami istri -kata Rio mereka adalah orang tuaku- saja di ruanganku. Aku bertanya kepada mereka tentang keberadaan Rio dan mereka menjawab bahwa Rio semalam pulang karena hari ini ia harus pulang. Mereka juga berkata bahwa hari ini aku sudah boleh pulang dari tempat ini.
Sesampainya di rumah, aku diantarkan ke sebuah ruangan yang ternyata adalah kamarku. Di dalam kamar, terdapat banyak foto, ada foto keluargaku, dan ada fotoku bersama Rio. Di dalam foto itu, aku dan Rio sedang tertawa dengan lepas di sebuah taman. Di bingkainya terdapat tulisan, for my Bunny. dan aku teringat, pada saat pertama kali ia mengunjungiku, ia sempat memanggilku dengan sebutan Bunny. Aku pun baru ingat bahwa mimpiku semalam terjadi di taman yang mirip atau bahkan sama dengan taman yang ada di foto ini. Entah mengapa, semuanya mulai jelas.
Pada sore hari, Rio datang ke rumahku. Ia membawa boneka kelinci besar dan sekotak cokelat, untukku. Aku meninggalkannya dan beralih ke taman di belakang rumahku.
Ternyata Rio menyusulku, "I miss you.. Kamu tau, Stel."
Aku terkejut dan dadaku menjadi sesak, tapi aku hanya bisa diam.
"Aku mau minta maaf. Aku akui, aku memang salah. Membiarkanmu muncul di kehidupanku, dan melepaskanmu begitu saja. Aku memang bodoh, tapi aku rasa, orang bodoh masih bisa mengungkapkan perasaannya yang paling dalam terhadap seseorang dan meminta maaf, kan?" Rio mengambil nafas panjang, lalu menggenggam tanganku. "Ini, cuma buat kamu, Stella. Kamu cuma perlu tahu itu." Ia menunjuk ke arah jantung.
Seketika itu, aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi, perlahan ingatanku kembali. Dunia ini menjadi kabur lagi, malam itu.
Keesokan harinya, aku terbangun dengan melihat Rio di sebelahku. Aku menegurnya dan bertanya mengapa ia tidak pergi ke sekolah.
"Maafin aku, Stel. Aku memang gak tahu diri. Gak merduliin kesehatanmu dan kondisi mentalmu. Ini terlalu cepat.."
"Aku sudah ingat semuanya, Io. Aku sudah ingat gimana kita dulu, kamu dengan San.."
"Ssst, itu semua gak penting. Yang penting, aku sudah lega kamu sudah ingat semuanya dan kamu ada disampingku sekarang, Stel. Kamu penting banget buat aku."
-----
originally made by me.


Love might be hurt you that much. But only love who can makes you go back to yourself.


Night, night!
N

No comments:

Post a Comment