September 08, 2012

Rindu



Aku, disini. Duduk terdiam. Mendengarkan rintik-rintik hujan. Telepon selulerku tidak bergetar, pertanda kamu tidak memberikan kabar kepadaku. Aku hanya bisa menunggu. 

Rei, kamu tahu kenapa aku suka saat hujan turun? Karena saat hujan turun, aku bisa menangis tanpa ada orang yang tahu bahwa aku sedang menangis. Selain itu, ingat kapan kita pertama kali bertemu? Saat hujan turun. Di bus kota. Sehabis pulang
sekolah. Sejak saat itu, dimanapun dan kapanpun jika ada kamu, aku merasa hangat sekaligus nyaman. Jika ada kamu. 

Kamu kemana, Rei? Aku mengkhawatirkanmu. 
Sudah hampir tiga minggu kamu menghilang begitu saja, Rei. Di sekolah, di lapangan futsal, di halte bus, di rumahmu, tetap saja aku tidak bisa menemukanmu. Kamu kemana, Rei? 
Sudah berkali-kali aku mengetik ratusan kata untukmu, tapi tidak ada satupun yang kamu balas. Menelponmu, tidak diangkat. Aku harus bagaimana, Rei? Aku sudah lelah. 

---

Pagi ini rasanya dingin sekali di Singapura. Aku hanya bisa berada di dalam selimutku saja rasanya. Padahal hari ini aku ada jadwal untuk menjalani kemoterapi. 
Rana, kamu apa kabar? Rasanya aku ingin sekali memelukmu setiap kali aku merasa takut. Aku takut, Rana. Aku takut menjalani kemoterapiku yang pertama ini. Tapi, aku lebih takut kehilanganmu, Rana. 
Aku memang salah. Meninggalkanmu tanpa sepatah kata apapun. Tapi aku akan merasa lebih bersalah lagi jika membiarkanmu menangisi keadaanku yang sudah sekarat ini, Rana. 
Rana, aku percaya kepada Tuhan, bahwa Ia akan mempertemukan kita lagi. Kita hanya bisa membiarkan waktu menjawabnya. Percayalah, Rana. Semua pasti ada waktunya. 
Bagaimana kabar kota Bandung, Rana? Aku rindu sekali dengan kota yang disebut Paris van Java itu. Tetapi, rinduku padamu tiada yang bisa menandingi, Rana. Tiga minggu bagaikan tiga ribu tahun lamanya. 
Aku tidak bisa membayangkan jika aku benar-benar pergi dari kehidupan ini, dan kehidupanmu, Rana. Aku hanya bisa berdoa dan berharap yang terbaik untuk kita semua. 

--- 

Rei, ini sudah enam bulan! Betapa teganya dirimu, Rei! Aku benci kamu. 
Kamu tega sudah membiarkan air mata ini terus berjatuhan. Kamu tega sudah membiarkan aku mencarimu tanpa arah dan tujuan. Kamu tega. 

--- 

Rana, maafkan aku. Aku tahu kamu sudah membenciku. Tetapi aku tidak akan pernah memberi tahumu keadaanku yang sesungguhnya. Aku sudah hampir mati, Rana. 
Aku hanya bisa memberikanmu kalung ini sebagai hadiah ulang tahunmu. Semoga kamu suka. 

---

Rei, aku menemukan sebuah kotak yang berisi kalung yang sudah lama sekali aku inginkan. Terdapat kartu di dalamnya, bertuliskan, Selamat Ulang Tahun, Rana. Entah mengapa, saat melihat kadoku ini, aku teringat kamu, Rei. Rasa benciku seketika hilang. Karena aku sadar akan suatu hal, tulisan pada kartu ucapan ini mirip sekali dengan tulisanmu, bahkan sama. 
Tanpa berpikir panjang, aku bertanya kepada sahabatmu, Eza. Karena pasti ada yang disembunyikan oleh dia. Eza berusaha menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi, akhirnya ia menyerah. Ia menceritakan semuanya, Rei. 

-----

Rei terbangun dan terkejut saat melihat Rana duduk disamping tempat tidurnya dan menggenggam tangannya. Rei lantas membelai halus rambut Rana. 
"Rei.." Rana terbangun. "Kamu kenapa tidak memberi tahuku apa yang sebenarnya terjadi?" 
Rei termenung dan akhirnya menjawab sebisanya, "Maafkan aku, Rana. Aku hanya tidak mau melihatmu menangis. Maafkan aku, Rana." 
"Klasik. Benar-benar klasik. Kamu egois, Rei! Kamu selalu begitu. Kamu tega membiarkanku menangis, bertanya-tanya, bingung. Kamu tega, Rei." Rana mulai terisak. 
"Rana, lebih baik aku melihatmu membenciku daripada kamu menangisi keadaanku yang sebentar lagi akan mati. Aku benci melihatmu menangis, Rana. Kamu bahkan tidak tahu seberapa rindunya aku kepadamu. Kamu tidak akan pernah tahu." 
"Rei, maafkan aku yang sudah salah mendugamu. Aku hanya sangat merindukan kehadiranmu. Hanya itu, Rei. Biarkan aku disini, Rei. Menjagamu sebisaku, menemani sampai waktu memisahkan kita. Biarkan, Rei." 
Kemudian Rei mendekap Rana hangat. Rasa rindu yang selama ini sudah mereka pendam, terbayar sudah. 

*****


N.

No comments:

Post a Comment