June 25, 2014

Orion

“Setiap petang pada bulan Juni, para penghuni galaksi itu berkumpul menikmati ekor cahaya matahari. Sejak ledakan besar dahulu, Galaksi Cinta ditaburi sejuta matahari yang terangnya 1.000 kali lipat lebih cemerlang dibanding matahari milik Bima Sakti. 
Bulan Juni yang istimewa. Setahun penuh mereka takzim dalam rotasi planet-planet dan tawaf berjamaah yang diikuti seluruh penduduk angkasa. Tawaf raksasa yang menghabiskan waktu begitu lama. Kemudian mereka beristirahat pada bulan Juni. 
Juni yang ditunggu-tunggu. Saat itu, para penghuni Galaksi Cinta akan duduk bergerombol di atas bukit yang ditumbuhi ilalang berbulu lembut. Angin memainkan musik yang menabuh sepi dan kerinduan yang kronis. Mereka lalu saling bercerita tentang kisah yang sama. Diulang-ulang, tetapi tak pernah mendatangkan rasa bosan. 
Ada yang tersenyum sambil membisikkan dendang langka. Lagu yang sudah tak dikenali generasi masa kini. Punah dikunyah masa. Bibitnya tersenyum, tetapi matanya melelehkan air mata. Ia teringat tatapan mata belahan hatinya. 
Jika engkau cinta, tatapan seperti itu tidak mungkin dusta. Tatapan yang tidak mampu kau tukar dengan gunung emas. Tatapan kasih yang tak terbatas. Seolah tak cukup engkau serahkan seluruh hidup. Tatapan yang telah tertinggal oleh waktu, mustahkl diulang. Sebab, belahan jiwanya terlanjur mengangkasa. Meninggalkan dia di Galaksi Cinta. Membiarkanbya menunggu tanpa tenggat waktu. Rasanya, melanjutkan hidup sekedar menghitung mundur menuju hari kematian. Namun, dia rela. Engkau mengatainya bodoh. Namun, dia rela. 
Ada yang menyendiri sambil menatap langit. Baginya, menarik napas pun seolah membuat nyawanya terampas. Rindu yang menyesakkan. Pada titik tertentu seperti mengosongkan paru-paru. No air... no air. Rasa yang sidah begitu renta, tetapi tak pernah menjadi kata-kata. Dia kini terlalu tua untuk merangkai kalimat mesra. Bagimu tak ada kata terlambat untuk mencintai, baginya tidak pernah ada waktu untuk mengatakan, 'Setelah Tuhan, engkaulah yang mampu mematikan matahari.'”

—Kinanthi, halaman 271-272 

No comments:

Post a Comment