July 23, 2014

Post-Presidential Election

Hello again, bloggy. 
Gonna write in Indonesian this time. 

Jadi, udah sekitar 2 bulan terakhir ini hampir semua orang yang aku kenal obrolannya satu, yaitu pemilu presiden Indonesia yang ke-7. Ya sebenernya sama satu lagi sih, nyari kampus secara abis lulus SMA gitu (but let me skip that one ya). Mulai dari debat capres-cawapres, black campaign, konser, artis pendukung, sampe jingle iklan Mastin deh bahasannya. 
Jujur, awalnya aku tertarik untuk speak up, ya meskipun hanya mengutarakan apa yang ada di pikiranku aja sih. Tau kok aku gak ngerti banyak hal tentang politik, and I used to ignore them bcs you know, it's sickening. Tapi beda dengan pilpres kali ini, aku excited banget! Awalnya. 
Tapi lama-lama, aku males. Kenapa? Soalnya bikin ada perbedaan yang awalnya sih it's OK tapi lama-lama jadi kayak misahin banget. Alhamdulillah (dan untungnya), aku sama keluarga dan most of my friends dipihak yang sama. Tapi ada beberapa temanku yang gak sependapat dan I'm totally fine. 
Sempet awal-awal debat capres aku berkicau di Twitter. Ya aku mencoba se-fair mungkin menilai kedua calon, even it was so hard not to defend my choice haha. Kadang ada kata-kataku yang nyebelin kali ya terus ada yang sebel akhirnya nyindir. Not a big thing for me sih. Secara aku emang orangnya kalo udah stick to my choice ya udah bakalan selamanya kayak gitu. So your opinion won't change mine, darling. Meskipun aku kadang mempertimbangkan beberapa argumen dari orang yang kompeten dan dari artikel-artikel dengan sumber yang terpercaya. Ya, hanya sekedar untuk menilai apakah pilihanku sudah benar atau belum. 
OK, back to the point. 
Kemarin hasil rekapitulasi suara sudah diumumkan KPU. Dan presiden pilihan rakyat sudah ada nama jelasnya. 
Harusnya gak ada lagi dong kamu pilih nomor 1 dia pilih nomor 2? 
Harusnya gak ada lagi dong menjelek-jelekkan nomor 1 atau nomor 2?
Harusnya kita menghormati pilihan seluruh rakyat Indonesia, bukan?
Harusnya kita mensupport dan berusaha mengawasi pemerintahan dari presiden yang sudah terpilih, bukan?
Harusnya kita ingat dengan sila ke-3 dari Pancasila. Yaitu, Persatuan Indonesia. 

C'mon, people. Ini sama aja kayak kamu pilih ketua OSIS. Sama aja kayak final piala dunia kemarin. Sama aja kayak kamu main catur. Ada yang menang ada yang kalah. Kalaupun ada yang curang, mari dibuktikan. Aku gak takut kalo pilihanku kalah, karena menang tak jumawa, kalah lapang dada; begitu kata salah satu rapper. 
Sudah gak ada lagi kamu milih ini aku milih itu. Presiden terpilih itu sudah pilihan  sekian ratus juta rakyat Indonesia. Will you respect that? Mau gak mau, suka gak suka, dukung dan hormati presiden yang sudah terpilih. 
Kalaupun ada kecurangan dalam pilpres ini, yang heboh bukan cuma dari satu kubu aja, tapi dari semua kubu. So, chill. Kita gak bodoh dan gak mau main curang. Dan jadinya buat apa relawan yang sudah bekerja keras sampai membuat kawalpemilu.org? 

Tapi aku salut dengan pilpres kali ini. Partisipasi masyarakat luar biasa. Meskipun sampai kebawa emosi dan ada yang pertemanannya agak keganggu. Tapi sekarang sudah selesai, kan? Perbedaan dibuat bukan untuk merusak, tapi dibuat untuk meningkatkan toleransi. 

Akhir kata, selamat atas kemenangan kita semua, rakyat Indonesia! Semoga apa yang kita citakan pelan-pelan bisa terwujud dengan ridho Tuhan dan kerja keras kita semua. 


(Ps. Maaf kalau ada yang tersinggung atau jadi sebel gara-gara post ini. Cuma mau mengutarakan pikiran aja. Cheers!) 


Salam 3 jari, persatuan Indonesia!
N.